Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Ashabul Kahfi : Menyepi Menyelamatkan Iman

Ingatkah kita akan cerita yang sangat populer, yaitu cerita Ashabul Kahfi?. Sebuah cerita yang Insya Allah akan terus populer hingga akhir zaman. Cerita Ashabul Kahfi ini, dalam Al Quran dituangkan dalam  surat Al Kahfi.

Sebetulnya terdapat tiga kisah yang dituangkan dalam Surat Al Kahfi yaitu kisah Ashabul Kahfi, kisah Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS, serta kisah Dzulqarnain. Penamaan surat dengan merujuk pada kisah Ashabul Kahfi tentunya bukan merupakan suatu yang tidak disengaja, tetapi sesuatu yang memang disengaja dan mempunya makna serta maksud tertentu. Dan kita mempunyai kewajiban untuk memberikan perhatian pada makna dan pesan dari cerita Ashabul Kahfi. Sebelum membaca kisah ini marilah kita meminta perlindungan Nya dan berniat karena Nya.

Secara singkat kisah singkat Ashabul Kahfi dapat disampaikan sebagai berikut : Ashabul Kahfi adalah nama sekelompok orang beriman, berjumlah 7 orang dan 1 anjing, yang hidup pada masa Raja Diqyanus di Romawi, yaitu pada masa beberapa ratus tahun sebelum diutusnya Nabi Isa AS. Mereka hidup ditengah masyarakat penyembah patung dengan seorang raja yang dzalim. Jika sang raja mengetahui ada sekelompok orang yang tidak menyembah berhala, maka sang raja akan sangat marah lalu memanggil mereka dan memerintahkan mereka untuk mengikuti kepercayaan sang raja.

Tapi Ashabul Kahfi mempunyai keyakinan bahwa Allah SWT adalah tuhan semesta alam dan hanya Allah SWT yang patut disembah. Untuk mempertahankan keimanannya maka mereka melarikan diri, sehingga mereka sampai di sebuah gua yang kemudian dipakai sebagai tempat persembunyian. Dengan izin Alloh SWT, mereka kemudian ditidurkan selama 309 tahun di dalam gua, dan dihidupkan kembali ketika masyarakat dan raja mereka sudah berganti menjadi masyarakat dan raja yang beriman kepada Alloh SWT (Ibnu Katsir; Tafsir al-Quran al-'Adzim; jilid:3 ; hal.67-71).

Cerita Ashabul Kahfi diceritakan dengan lengkap oleh sahabat Nabi Muhammad SAW, yatu Ali bin Abi Thalib KW ketika menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan oleh para Pendeta Yahudi, yang salah satu pertanyaannya adalah mengenai kisah Ahsabul Kahfi.

Kisah Ali bin Abi Thalib KW menjawab berbagai pertanyaan para Pendeta Yahudi tersebut, yang didalamnya memuat kisah Ashabul Kahfi,  terdapat dalam kitab Fadho’ilul Khomsah Minas Shikhohis Sittah yang ditulis oleh As Sayyid Murtadho Al Faruz Aabaad (jilid II, halaman 291-300). Kisah Ashabul Kahfi dalam kitab tersebut dikutip dari kitab Qishoshul Anbiya. Dan Allah SWT telah menceritakan dan menjelaskan kisah ini dalam Al Quran surat Al Kahfi.

(9). atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan?. (10). (ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: "Wahai Tuhan Kami, berikanlah rahmat kepada Kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi Kami petunjuk yang Lurus dalam urusan Kami (ini)". (11). Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu, (12). kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal (dalam gua itu). (13). Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. (14). dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, "Tuhan Kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; Kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, Sesungguhnya Kami kalau demikian telah mengucapkan Perkataan yang Amat jauh dari kebenaran". (15). kaum Kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?. (16). dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, Maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu. (17). dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, Maka dialah yang mendapat petunjuk; dan Barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. (18). dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka. (19). Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. berkatalah salah seorang di antara mereka: sudah berapa lamakah kamu berada (disini?)". mereka menjawab: "Kita berada (disini) sehari atau setengah hari". berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu untuk pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, Maka hendaklah ia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah ia Berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun. (20). Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama lamanya. (21). Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya. ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: "Dirikan sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka". orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: "Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya". (22). nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) adalah tiga orang yang keempat adalah anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: "(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya", sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: "(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya". Katakanlah: "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit". karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka. (23). dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, (24). kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan Katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini". (25). dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi). (26). Katakanlah: "Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan Alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan". [Q.S Al Kahfi (18) : 9-26]

Dalam kitab Qishashul Anbiya’ dikisahkan sebagai berikut :

Di kala Sayyidina Umar Ibnul Khattab RA, menjadi Khalifah, pernah datang kepadanya beberapa orang pendeta Yahudi. Mereka berkata kepada Khalifah: “Hai Umar, anda adalah pemegang kekuasaan sesudah Muhammad dan shahabatnya, Abu Bakar. Kami hendak menanyakan beberapa masalah penting kepada anda. Jika anda dapat memberi jawaban kepada kami, barulah kami mau memahami bahwa Islam merupakan agama yang benar dan Muhammad benar-benar seorang Nabi. Sebaliknya, jika anda tidak dapat memberi jawaban, berarti agama Islam itu bathil dan Muhammad bukan seorang Nabi”.

“Silahkan bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan,” sahut Khalifah Umar RA. “Jelaskan kepada kami tentang induk kunci (gembok) mengancing langit, apakah itu?” Tanya pendeta-pendeta itu, memulai pertanyaan-pertanyaannya. “Terangkan kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang berjalan bersama penghuninya, apakah itu? Tunjukkan kepada kami tentang suatu makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi ia bukan manusia dan bukan jin? Terangkan kepada kami tentang lima jenis makhluq yang dapat berjalan di permukaan bumi, tetapi makhluq-makhluq itu tidak dilahirkan dari kandungan ibu atau atau induknya? Beritahukan kepada kami apa yang dikatakan oleh burung puyuh di saat ia sedang berkicau? Apakah yang dikatakan oleh ayam jantan di kala ia sedang berkokok? Apakah yang dikatakan oleh kuda di saat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan oleh katak di waktu ia sedang bersuara? Apakah yang dikatakan oleh keledai di saat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan oleh burung pipit pada waktu ia sedang berkicau?”.

Khalifah Umar RA menundukkan kepala untuk berfikir sejenak, kemudian berkata : “Bagi Umar, jika ia menjawab ‘tidak tahu’ atas pertanyaan-pertanyaan yang memang tidak diketahui jawabannya, itu bukan suatu hal yang memalukan”.

Mendengar jawaban Khalifah Umar RA seperti itu, pendeta-pendeta Yahudi yang bertanya berdiri melonjak-lonjak kegirangan, sambil berkata : “Sekarang kami bersaksi bahwa Muhammad memang bukan seorang Nabi, dan agama Islam itu adalah bathil..!”.

Salman Al-Farisi yang saat itu hadir, segera bangkit dan berkata kepada pendeta-pendeta Yahudi itu : “Kalian tunggu sebentar…! Ia cepat-cepat pergi ke rumah Ali bin Abi Thalib KW. Setelah bertemu, Salman berkata : “Ya Abal Hasan, selamatkanlah agama Islam…!” Imam Ali AS, bingung, lalu bertanya : “ada apa ?”.

Salman kemudian menceritakan apa yang sedang dihadapi oleh Khalifah Umar Ibnul Khattab. Imam Ali AS, segera berangkat menuju ke rumah Kholifah Umar RA, berjalan dengan memakai burdah (selembar kain penutup punggung atau leher) peninggalan Rasulullah SAW. Ketika Khalifah Umar RA melihat Ali bin Abi Thalib KW datang, ia bangun dari tempat duduk lalu segera memeluknya, sambil berkata : “Ya Abal Hasan, tiap ada kesulitan besar, engkau selalu kupanggil…!”.

Setelah berhadap-hadapan dengan para pendeta yang sedang menunggu-nunggu jawaban itu, Imam Ali bin Abi Thalib KW, herkata : “Silakan kalian bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan. Roaulullah SAW,. sudah mengajarku seribu macam ilmu, dan tiap jenis dari ilmu-ilmu itu mempunyai seribu macam cabang ilmu”.

Pendeta-pendeta Yahudi itu lalu mengulangi pertanyaan-pertanyaan mereka. Sebelum menjawab, Imam Ali bin Abi Thalib KW, berkata : “Aku ingin mengajukan suatu syarat kepada kalian, yaitu jika ternyata aku nanti sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian sesuai dengan yang ada di dalam Taurat, kalian supaya bersedia memeluk agama kami dan beriman”, “Ya baik…!” jawab mereka.

“Sekarang tanyakanlah satu demi satu,” kata Imam Ali bin Abi Thalib KW.Mereka mulai bertanya : “Apakah induk kunci (gembok) yang mengancing pintu-pintu langit?”. “Induk kunci itu, jawab Imam Ali AS, ialah syirik kepada Allah. Sebab semua hamba Allah, baik pria maupun wanita, jika ia bersyirik kepada Alloh, amalnya tidak akan dapat naik sampai ke hadhirat Allah”.

Para pendeta Yahudi bertanya lagi : “Anak kunci apakah yang dapat membuka pintu-pintu langit ?”. Imam Ali as, menjawab : “Anak kunci itu ialah kesaksian (syahadat) bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah”.

Para pendeta Yahudi itu saling pandang di antara mereka, sambil berkata : “Orang itu benar juga”. Mereka bertanya lagi : “Terangkanlah kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang dapat berjalan bersama penghuninya?”. “Kuburan itu ialah ikan hiu (hut) yang menelan Nabi Yunus putera Matta” jawab Imam Ali AS. “Nabi Yunus AS. dibawa keliling ketujuh samudera”.

Pendeta-pendeta itu meneruskan pertanyaannya lagi : “Jelaskan kepada kami tentang makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi makhluk itu bukan manusia dan bukan jin ?”. Imam Ali AS, menjawab : “Makhluq itu ialah semut Nabi Sulaiman AS putera Nabi Dawud AS. Semut itu berkata kepada kaumnya : “Hai para semut, masuklah ke dalam tempat kediaman kalian, agar tidak diinjak-injak oleh Sulaiman AS dan pasukannya”.

Para pendeta Yahudi itu meneruskan pertanyaannya : “Beritahukan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang berjalan di atas permukaan bumi, tetapi tidak satu pun di antara makhluk-makhluk itu yang dilahirkan dari kandungan ibunya atau induknya ?”. Imam Ali AS, menjawab : “Lima makhluk itu ialah, pertama, Adam. Kedua, Hawa. Ketiga, Unta Nabi Shaleh AS. Keempat, Domba Nabi Ibrahim AS. Kelima, Tongkat Nabi Musa AS (yang menjelma menjadi seekor ular)”.

Dua di antara tiga orang pendeta Yahudi itu setelah mendengar jawaban-jawaban serta penjelasan yang diberikan oleh Imam Ali AS, lalu mengatakan : “Kami bersaksi bahwa tiada tuhan selain AllAh dan Muhammad adalah Rasulullah…!”.

Tetapi seorang pendeta lainnya, bangun berdiri sambil berkata kepada Imam Ali bin Abi Tholib KW, : “Hai Ali, hati teman-temanku sudah dihinggapi oleh sesuatu yang sama seperti iman dan keyakinan mengenai benarnya agama Islam. Sekarang masih ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan kepada anda”.

“Tanyakanlah apa saja yang kau inginkan” sahut Imam Ali AS. “Coba terangkan kepadaku tentang sejumlah orang yang pada zaman dahulu sudah mati selama 309 tahun, kemudian dihidupkan kembali oleh Allah. Bagaimana cerita tentang mereka itu?” tanya pendeta tadi. Ali bin Ali Thalib KW, menjawab : “Hai pendeta Yahudi, mereka itu ialah para penghuni gua. cerita tentang mereka itu sudah dijelaskan oleh Allah SWT, kepada Rasul-Nya. Jika engkau mau, akan kubacakan kisah mereka itu”.

Pendeta Yahudi itu menyahut : “Aku sudah banyak mendengar tentang Al-Qur’an kalian itu…! Jika engkau memang benar-benar tahu, coba sebutkan nama-nama Ashabul Kahfi, nama ayah-ayah mereka, nama kota mereka, nama raja mereka, nama anjing mereka, nama gunung serta gua mereka, dan semua kisah mereka dari awal sampai akhir.!”.

Imam Ali bin Abi Thalib KW, kemudian merapikan duduknya, menekuk lutut ke depan perut, lalu ditopangnya dengan burdah yang diikatkan ke pinggang. Lalu Imam Ali bin Abi Thalib KW, berkata : “Hai saudara-saudara Yahudi. Muhammad Rasulullah SAW, kekasihku telah menceritakan kepadaku, bahwa kisah itu terjadi di negeri Romawi, di sebuah kota bernama “Aphesus” atau disebut juga dengan nama “Tharsus”. Tetapi nama kota itu pada zaman dahulu ialah Aphesus (Ephese). Baru setelah Islam datang, kota itu berubah nama menjadi Tharsus (Tarse, sekarang terletak di dalam wilayah Turki).

Penduduk negeri itu dahulunya mempunyai seorang raja yang baik. Setelah raja itu meninggal dunia, berita kematiannya didengar oleh seorang raja Persia bernama “Diqyanius”. Dia seorang raja kafir yang amat sombong dan dzalim. Dia datang menyerbu negeri itu dengan kekuatan pasukannya, dan akhirnya berhasil menguasai kota Aphesus. Akhirnya kota itu dijadikan ibukota kerajaan, lalu dibangunlah sebuah Istana”.

Baru sampai di situ, pendeta Yahudi yang bertanya itu berdiri, terus bertanya : “Jika engkau benar-benar tahu, coba terangkan kepadaku bentuk Istana itu, bagaimana serambi dan ruangan-ruangannya ?”. Imam Ali bin Abi Thalib KW menerangkan : “Hai saudara-saudara Yahudi, raja itu membangun istana yang sangat megah, terbuat dari batu marmer. Panjangnya satu farsakh (kl 8 km) dan lebarnya pun satu farsakh. Pilar-pilarnya yang berjumlah seribu buah, semuanya terbuat dari emas, dan lampu-lampu yang berjumlah seribu buah, juga semuanya terbuat dari emas. Lampu-lampu itu bergelantungan pada rantai-rantai yang terbuat dari perak. Tiap malam apinya dinyalakan dengan sejenis minyak yang harum baunya. Di sebelah timur serambi dibuat lubang-lubang cahaya sebanyak seratus buah, demikian pula di sebelah baratnya. Sehingga matahari sejak mulai terbit sampai terbenam selalu dapat menerangi serambi. Raja itu pun membuat sebuah singgasana dari emas. Panjangnya 80 hasta dan lebarnya 40 hasta. Di sebelah kanannya tersedia 80 buah kursi, semuanya terbuat dari emas. Di situlah para hulubalang kerajaan duduk. Di sebelah kirinya juga disediakan 80 buah kursi terbuat dari emas, untuk duduk para petinggi dan penguasa-penguasa tinggi lainnya. Raja duduk di atas singgasana dengan mengenakan mahkota di atas kepala”.

Sampai di situ pendeta yang bersangkutan berdiri lagi sambil berkata : “Jika engkau benar-benar tahu, coba terangkan kepadaku dari apakah mahkota itu dibuat ?”. “Hai saudara-saudara Yahudi”, kata Imam Ali bin Abi Thalib KW menerangkan, “mahkota raja itu terbuat dari kepingan-kepingan emas, berkaki 9 buah, dan tiap kakinya bertaburan mutiara yang memantulkan cahaya laksana bintang-bintang menerangi kegelapan malam. Raja itu juga mempunyai 50 orang pelayan, terdiri dari anak-anak para hulubalang. Semuanya memakai selempang dan baju sutera berwarna merah. Celana mereka juga terbuat dari sutera berwarna hijau. Semuanya dihias dengan gelang-gelang kaki yang sangat indah. Masing-masing diberi tongkat terbuat dari emas. Mereka harus berdiri di belakang raja. Selain mereka, raja juga mengangkat 6 orang, terdiri dari anak-anak para cendekiawan, untuk dijadikan menteri-menteri atau pembantu-pembantunya. Raja tidak mengambil suatu keputusan apa pun tanpa berunding lebih dulu dengan mereka. Enam orang pembantu itu selalu berada di kanan kiri raja, tiga orang berdiri di sebelah kanan dan yang tiga orang lainnya berdiri di sebelah kiri”.

Pendeta yang bertanya itu berdiri lagi, lalu berkata : “Hai Ali, jika yang kau katakan itu benar, coba sebutkan nama enam orang yang menjadi pembantu-pembantu raja itu ?”. Imam Ali bin Abi Thalib KW, menjawab : “Kekasihku Muhammad Rasulullah SAW, menceritakan kepadaku, bahwa tiga orang yang berdiri di sebelah kanan raja, masing-masing bernama Tamlikha, Miksalmina dan Mikhaslimina. Adapun tiga orang pembantu yang berdiri di sebelah kiri, masing-masing bernama Martelius, Casitius dan Sidemius. Tiap hari setelah raja duduk dalam serambi istana dikerumuni oleh semua hulubalang dan para punggawa, masuklah tiga orang pelayan menghadap raja. Seorang diantaranya membawa piala emas penuh berisi wewangian murni. Seorang lagi membawa piala perak penuh berisi air sari bunga. Sedang yang seorangnya lagi membawa seekor burung. Orang yang membawa burung ini kemudian mengeluarkan suara isyarat, lalu burung itu terbang di atas piala yang berisi air sari bunga. Burung itu berkecimpung di dalamnya dan setelah itu ia mengibas-ngibaskan sayap serta bulunya, sampai sari bunga itu habis dipercikkan ke semua tempat sekitarnya.

Kemudian si pembawa burung tadi mengeluarkan suara isyarat hingga burung itu terbang lalu hinggap di atas piala yang berisi wewangian murni. Sambil berkecimpung di dalamnya, burung itu mengibas-ngibaskan sayap dan bulunya, sampai wewangian murni yang ada dalam piala itu habis dipercikkan ke tempat sekitarnya. Pembawa burung itu memberi isyarat suara lagi dan burung itu lalu terbang dan hinggap di atas mahkota raja, sambil membentangkan kedua sayap yang harum semerbak di atas kepala raja. Demikianlah raja itu berada di atas singgasana kekuasaan selama tiga puluh tahun. Selama itu ia tidak pernah diserang penyakit apa pun, tidak pernah merasa pusing kepala, sakit perut, demam, berliur, berludah atau pun beringus. Setelah sang raja merasa dirinya sangat kuat dan sehat, ia mulai sombong, durhaka dan dzalim. Dia mengaku diri sebagai “Tuhan” dan tidak mau lagi mengakui adanya Allah SWT.

Raja itu kemudian memanggil orang-orang terkemuka dari rakyatnya. Barang siapa yang taat dan patuh kepadanya, diberi pakaian dan berbagai macam hadiah lainnya. Tetapi barang siapa yang tidak mau taat atau tidak bersedia mengikuti kemauannya, ia akan segera dibunuh. Oleh sebab itu semua orang terpaksa menerima kemauan raja. Dalam waktu yang cukup lama, semua orang patuh kepada raja itu, sampai ia disembah dan dipuja. Mereka tidak lagi memuja dan menyembah Alloh SWT.

Pada suatu hari dalam perayaan ulang tahunnya, raja sedang duduk di atas singgasana mengenakan mahkota di atas kepala, tiba-tiba masuklah seorang hulubalang memberi tahu, bahwa ada balatentara asing masuk menyerbu ke dalam wilayah kerajaannya, yang ingin melancarkan peperangan terhadap raja. Demikian sedih dan bingungnya raja itu, sampai tanpa disadari mahkota yang sedang dipakainya jatuh dari kepalanya. Kemudian raja itu sendiri jatuh terpelanting dari atas singgasana. Salah seorang pembantu yang berdiri di sebelah kanan, seorang yang pintar bernama Tamlikha, memperhatikan keadaan sang raja dengan seksama. Ia berpikir, lalu berkata di dalam hati : “Kalau Diqyanius itu benar-benar tuhan sebagaimana menurut pengakuannya, tentu ia tidak akan sedih, tidak tidur, tidak buang air kecil atau pun air besar. Itu semua bukanlah sifat-sifat tuhan”.

Enam orang pembantu raja itu tiap hari selalu mengadakan pertemuan di tempat salah seorang dari mereka secara bergiliran. Pada satu hari tibalah giliran Tamlikha menerima kunjungan lima orang temannya. Mereka berkumpul di rumah Tamlikha untuk makan dan minum, tetapi Tamlikha sendiri tidak ikut makan dan minum. Teman-temannya bertanya : “Hai Tamlikha, mengapa engkau tidak mau makan dan tidak mau minum ?” “Teman-teman…” sahut Tamlikha, “hatiku sedang dirisaukan oleh sesuatu yang membuatku tidak ingin makan dan tidak ingin minum, juga tidak ingin tidur”.

Teman-temannya bertanya: “Apakah yang merisaukan hatimu, hai Tamlikha ?”, “Sejak lama aku memikirkan soal langit” ujar Tamlikha menjelaskan. Aku lalu bertanya pada diriku sendiri : “siapakah yang mengangkatnya ke atas sebagai atap yang senantiasa aman dan terpelihara, tanpa gantungan dari atas dan tanpa tiang yang menopangnya dari bawah? Siapakah yang menjalankan matahari dan bulan di langit? Siapakah yang menghias langit itu dengan bintang-bintang bertaburan?”. Kemudian kupikirkan juga bumi ini: “Siapakah yang membentang dan menghamparkannya di cakrawala? Siapakah yang menahannya dengan gunung-gunung raksasa agar tidak goyah, tidak goncang dan tidak miring?”. Aku juga lama sekali memikirkan diriku sendiri : “Siapakah yang mengeluarkan aku sebagai bayi dari perut ibuku? Siapakah yang memelihara hidupku dan memberi makan kepadaku? Semuanya itu pasti ada yang membuat, dan sudah tentu bukan Diqyanius“.

Teman-teman Tamlikha lalu bertekuk lutut dihadapannya. Dua kaki Tamlikha diciumi sambil berkata : “Hai Tamlikha dalam hati kami sekarang terasa sesuatu seperti yang ada di dalam hatimu. Oleh karena itu, sebaiknya engkau tunjukkan jalan keluar bagi kita semua?” “Saudara-saudara…” kata Tamlikha, “baik aku maupun kalian tidak menemukan akal selain harus lari meninggalkan raja yang dzalim itu, menuju kepada Raja pencipta langit dan bumi..” “Kami setuju dengan pendapatmu…” sahut teman-temannya. Tamlikha lalu berdiri, terus beranjak pergi untuk menjual buah kurma, dan akhirnya berhasil mendapat uang sebanyak 3 dirham. Uang itu kemudian diselipkan dalam kantung bajunya, lalu ia berangkat dengan berkuda bersama-sama dengan lima orang temannya.

Setelah berjalan 3 mil jauhnya dari kota, Tamlikha berkata kepada teman-temannya : “Saudara-saudara, kita sekarang sudah bebas dari raja dunia dan dari kekuasaannya. Sekarang turunlah kalian dari kuda dan marilah kita berjalan kaki. Mudah-mudahan Allah SWT akan memudahkan urusan kita serta memberikan jalan keluar”. Mereka turun dari kudanya masing-masing. Lalu berjalan kaki sejauh 7 farsakh, sampai kaki mereka bengkak dan berdarah karena tidak biasa berjalan kaki sejauh itu.

Tiba-tiba datanglah seorang penggembala menyambut mereka. Kepada penggembala itu mereka bertanya : “Hai penggembala, apakah engkau mempunyai air minum atau susu?”, “Aku mempunyai semua yang kalian inginkan” sahut penggembala itu. “Tetapi kulihat wajah kalian semuanya seperti kaum bangsawan. Aku menduga kalian pasti melarikan diri. Coba beritahukan kepadaku mengenai keadaan kalian?”. “Ah.., susahnya orang ini..” jawab mereka “Kami sudah memeluk suatu agama, kami tidak boleh berdusta. Apakah kami akan selamat jika kami mengatakan yang sebenarnya?” “Ya..” jawab penggembala itu.

Tamlikha dan teman-temannya lalu menceritakan semua yang terjadi pada diri mereka. Mendengar cerita mereka, penggembala itu segera bertekuk lutut di depan mereka, dan sambil menciumi kaki mereka, ia berkata : “Dalam hatiku sekarang terasa sesuatu seperti yang ada didalam hati kalian. Kalian berhenti sajal dahulu di sini. Aku hendak mengembalikan kambing-kambing itu kepada pemiliknya. Nanti aku akan segera kembali lagi kepada kalian”.

Tamlikha bersama teman-temannya berhenti menunggu. Penggembala itu segera pergi untuk mengembalikan kambing-kambing gembalaannya. Tak lama kemudian ia datang lagi berjalan kaki, diikuti oleh seekor anjing miliknya.

Waktu cerita Imam Ali AS, sampai di situ, salah satu pendeta Yahudi bergegas berdiri dan bertanya lagi, sambil berkata : “Hai Ali, jika engkau benar-benar tahu, coba sebutkan apakah warna anjing itu dan siapakah namanya ?”. “Hai saudara saudar Yahudi…” kata Imam Ali bin Abi Thalib KW, memberitahukan, “kekasihku Muhammad Rasulullah SAW, menceritakan kepadaku, bahwa anjing itu berwarna kehitam-hitaman dan bernama Qithmir. Ketika enam orang pelarian itu melihat seekor anjing, masing-masing saling berkata kepada temannya : kita khawatir kalau-kalau anjing itu nantinya akan membongkar rahasia kita? Mereka minta kepada penggembala supaya anjing itu dihalau saja dengan batu.

Anjing itu melihat kepada Tamlikha dan teman-temannya, lalu duduk di atas dua kaki belakang, menggeliat, dan mengucapkan kata-kata dengan lancar dan jelas sekali : “Hai orang-orang, mengapa kalian hendak mengusirku, padahal aku ini bersaksi tiada tuhan selain Allah, tak ada yang menyekutuka-Nya. Biarlah aku menjaga kalian dari musuh, dan dengan berbuat demikian aku mendekatkan diriku kepada Allah SWT”. Anjing itu akhirnya dibiarkan mengikuti mereka. Mereka pergi mengikuti ajakan penggembala untuk naik ke sebuah bukit,  lalu bersama-sama mereka mendekati sebuah gua.

Pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu, bangun lagi dari tempat duduknya sambil berkata : “Apakah nama bukit itu dan apakah nama gua itu?” Imam Ali as, menjelaskan : “bukit itu bernama Naglus dan nama gua itu ialah Washid, atau di sebut juga dengan nama Kheram”.

Imam Ali AS, melanjutkan ceritanya, secara tiba-tiba di depan gua itu tumbuh pepohonan berbuah dan memancur mata air deras sekali. Mereka makan buah-buahan dan minum air yang tersedia di tempat itu. Setelah tiba waktu malam, mereka masuk berlindung di dalam gua. Sedang anjing yang sejak mengikuti mereka, berjaga-jaga sambil menjulurkan kedua kaki depannya untuk menghalang-halangi pintu gua. Kemudian Allah SWT, memerintahkan Malaikat Maut supaya mencabut nyawa mereka dan kepada masing-masing orang dari mereka, Allah SWT menugaskan dua Malaikat untuk bertugas membolak-balik tubuh mereka dari kanan ke kiri. Allah SWT, lalu memerintahkan matahari supaya pada saat terbit condong memancarkan sinarnya ke dalam gua dari arah kanan, dan pada saat hampir terbenam supaya sinarnya mulai meninggalkan mereka dari arah kiri.

Suatu ketika waktu raja Diqyanius baru saja selesai berpesta dan ia bertanya tentang enam orang pembantunya. Ia mendapatkan jawaban bahwa mereka telah melarikan diri. Raja Diqyanius sangat gusar. Bersama 80.000 pasukan berkuda ia cepat-cepat berangkat menelusuri jejak enam orang pembantunya yang melarikan diri. Ia naik ke atas bukit kemudian mendekati gua. Ia melihat enam orang pembantunya yang melarikan diri itu sedang tidur berbaring di dalam gua. Ia meyakini bahwa mereka adalah pembantunya yang melarikan diri dan memastikan mereka benar-benar sedang tidur.

Kepada para pengikutnya ia berkata : “Kalau aku ingin menghukum mereka, tidak akan kujatuhkan hukuman yang lebih berat dari perbuatan mereka yang telah menyiksa diri mereka sendiri di dalam gua. Panggillah tukang-tukang batu supaya mereka segera datang ke mari”. Setelah tukang-tukang batu itu tiba, mereka diperintahkan menutup rapat pintu gua dengan batu-batu dan serabuk (bahan semacam semen). Selesai dikerjakan, raja berkata kepada para pengikutnya : “Katakanlah kepada mereka yang ada di dalam gua, kalau benar-benar mereka itu tidak berdusta supaya minta tolong kepada Tuhan mereka yang ada di langit, agar mereka dikeluarkan dari tempat itu”.

Dalam gua yang tertutup rapat itu, mereka tinggal selama 309 tahun. Setelah waktu yang sangat lama tersebut berlalu, Allah SWT mengembalikan lagi nyawa mereka. Pada saat matahari mulai memancarkan sinarnya, mereka merasa seakan-akan baru bangun dari tidurnya masing-masing. Yang seorang berkata kepada yang lainnya : “Malam tadi kami lupa beribadah kepada Allah, mari kita pergi ke mata air”.

Setelah mereka berada di luar gua, tiba-tiba mereka melihat mata air itu sudah mengering kembali dan pepohonan yang ada pun sudah menjadi kering semuanya. Kemudian Allah SWT membuat mereka mulai merasa lapar. Mereka saling bertanya, “Siapakah diantara kita yang sanggup dan bersedia berangkat ke kota membawa uang untuk mendapatkan makanan? Tetapi yang akan pergi ke kota nanti supaya berhati-hati benar, jangan sampai membeli makanan yang dimasak dengan lemak babi”.

Tamlikha kemudian berkata, “Hai saudara-saudaraku, aku sajalah yang berangkat untuk mendapatkan makanan. Tetapi, hai penggembala, berikanlah bajumu kepadaku dan ambillah bajuku in”. Setelah Tamlikha memakai baju penggembala, ia berangkat menuju ke kota. Sepanjang jalan ia melewati tempat-tempat yang sama sekali belum pernah dikenalnya, melalui jalan-jalan yang belum pernah diketahuinya. Setibanya ia dekat pintu gerbang kota, ia melihat bendera hijau berkibar di angkasa bertuliskan, “Tiada Tuhan selain Allah dan Isa adalah Roh Allah”.

Tamlikha berhenti sejenak memandang bendera itu sambil mengusap-usap mata, lalu berkata seorang diri, “Mungkin aku ini masih tidur”. Setelah agak lama memandang dan mengamati bendera, ia meneruskan perjalanan memasuki kota. Dilihatnya banyak orang sedang membaca Kitab Injil. Ia berpapasan dengan orang-orang yang belum pernah ia kenal. Setibanya di sebuah pasar ia bertanya kepada seorang penjual roti, “Hai tukang roti, apakah nama kota kalian ini?”, “Aphesus” sahut penjual roti itu.

“Siapakah nama raja kalian?” tanya Tamlikha, “Abdurrahman” jawab penjual roti. “Kalau yang kau katakan itu benar” kata Tamlikha, “apa yang kualami sungguh aneh sekali. Ambillah uang ini dan berilah makanan kepadaku..” Melihat uang itu, penjual roti terheran-heran, karena uang yang dibawa Tamlikha itu uang zaman dulu, yang ukurannya lebih besar dan lebih berat.

Pendeta Yahudi yang bertanya itu kemudian berdiri lagi, lalu berkata kepada Ali bin Abi Thalib KW, “Hai Ali, kalau benar-benar engkau mengetahui, coba terangkan kepadaku berapa nilai uang lama itu dibanding dengan uang baru”. Imam Ali AS, menjelaskan, “Kekasihku Muhammad Rasulullah SAW, menceritakan kepadaku, bahwa uang yang dibawa oleh Tamlikha dibanding dengan uang baru, ialah tiap dirham lama sama dengan sepuluh dan dua pertiga dirham baru”.

Imam Ali As kemudian melanjutkan ceritanya : Penjual Roti lalu berkata kepada Tamlikha, “Aduhai, alangkah beruntungnya aku..! Rupanya engkau baru menemukan harta karun..? Berikan sisa uang itu kepadaku..! Kalau tidak, engkau akan ku hadapkan kepada raja..?”. “Aku tidak menemukan harta karun” jawab Tamlikha, “Uang ini ku dapat tiga hari yang lalu dari hasil penjualan buah kurma seharga tiga dirham, aku kemudian meninggalkan kota karena orang-orang semuanya menyembah Diqyanius…!”.

Penjual roti itu marah, lalu berkata, “Apakah setelah engkau menemukan harta karun masih juga tidak rela menyerahkan sisa uangmu itu kepadaku…? Lagi pula engkau telah menyebut-nyebut seorang raja durhaka yang mengaku diri sebagai tuhan, padahal raja itu sudah mati lebih dari 300 tahun yang silam..! Apakah dengan begitu engkau hendak memperolok-olok aku..?”.

Tamlikha lalu ditangkap, kemudian dibawa pergi menghadap raja. Raja yang baru ini seorang yang dapat berpikir dan bersikap adil. Raja bertanya kepada orang-orang yang membawa Tamlikha, “Bagaimana cerita tentang orang ini…?”.

“Dia menemukan harta karun..” jawab orang-orang yang membawanya. Kepada Tamlikha, raja berkata, “Engkau tak perlu khawatir..! Nabi Isa AS, memerintahkan supaya kami hanya memungut seperlima saja dari harta karun itu, serahkanlah yang seperlima itu kepadaku, dan selanjutnya engkau akan selamat…”. Tamlikha menjawab, “Baginda, aku sama sekali tidak menemukan harta karun…! Aku adalah penduduk kota ini…!”. Raja bertanya sambil keheran-heranan, “Engkau penduduk kota ini…?”, “Ya.. Benar” sahut Tamlikha, “Adakah orang yang kau kenal ?” tanya raja lagi. “Ya.. ada,” jawab Tamlikha. “Coba sebutkan siapa namanya…?” tutur raja.

Tamlikha menyebut nama-nama kurang lebih 1000 orang, tetapi tak ada satu nama pun yang dikenal oleh raja atau oleh orang lain yang hadir mendengarkan saat itu. Mereka berkata, “Ah…, semua itu bukan nama orang-orang yang hidup di zaman kita sekarang. Tetapi, apakah engkau mempunyai rumah di kota ini ?”, “Ya.. tuanku..” jawab Tamlikha, “Utuslah seorang menyertai aku!”.

Raja kemudian memerintahkan beberapa orang menyertai Tamlikha pergi. Oleh Tamlikha mereka diajak menuju ke sebuah rumah yang paling tinggi di kota itu. Setibanya di sana, Tamlikha berkata kepada orang yang mengantarkan, “Inilah rumahku..!”

Pintu rumah itu lalu diketuk dan keluarlah seorang lelaki yang sudah sangat lanjut usia. Sepasang alis di bawah keningnya sudah sedemikian putih dan mengkerut hampir menutupi mata karena sudah terlampau tua. Ia terperanjat ketakutan, lalu bertanya kepada orang-orang yang datang, “Kalian ada perlu apa ?”.” Kami utusan raja yang menyertai Tamlikha, Orang muda ini mengaku rumah ini adalah rumahnya…!”.

Orang tua itu marah, memandang kepada Tamlikha dan sambil mengamati dia bertanya, “Siapa namamu?”, “Aku Tamlikha anak Filistin…!”, Orang tua itu lalu berkata, “Coba ulangi lagi…!” Tamlikha menyebut lagi namanya. Tiba-tiba orang tua itu bertekuk lutut di depan kaki Tamlikha sambil berkata, “Ini adalah datukku..! Demi Allah, dia adalah salah seorang di antara orang-orang yang melarikan diri dari Diqyanius raja durhaka”, kemudian diteruskannya dengan suara haru, “dia lari berlindung kepada yang Maha Perkasa, Pencipta langit dan bumi. Nabi kita, Isa AS, dahulu telah memberitahukan kisah mereka kepada kita dan mengatakan bahwa mereka itu akan hidup kembali…!”.

Peristiwa yang terjadi di rumah orang tua itu kemudian di laporkan kepada raja. Dengan menunggang kuda, raja segera datang menuju ke tempat Tamlikha yang sedang berada di rumah orang tua tadi. Setelah melihat Tamlikha, raja segera turun dari kuda. Oleh raja Tamlikha diangkat ke atas pundak, sedangkan orang banyak beramai-ramai menciumi tangan dan kaki Tamlikha sambil bertanya-tanya, “Hai Tamlikha, bagaimana keadaan teman-temanmu?”.

Kepada mereka Tamlikha memberi tahu, bahwa semua temannya masih berada di dalam gua. Pada masa itu kota Aphesus diurus oleh dua orang bangsawan istana. Seorang beragama Islam dan seorang lainnya lagi beragama Nasrani. Dua orang bangsawan itu bersama pengikutnya masing-masing pergi membawa Tamlikha menuju ke gua,” demikian Imam Ali AS, melanjutkan ceritanya.

Teman-teman Tamlikha semuanya masih berada di dalam gua itu. Setibanya dekat gua, Tamlikha berkata kepada dua orang bangsawan dan para pengikut mereka, “Aku khawatir kalau sampai teman-temanku mendengar suara tapak kuda, atau gemerincingnya senjata. Mereka pasti menduga Diqyanius datang dan mereka bakal mati semua. Oleh karena itu kalian berhenti saja di sini. Biarlah aku sendiri yang akan menemui dan memberitahu mereka”.

Semua berhenti menunggu dan Tamlikha masuk seorang diri ke dalam gua. Melihat Tamlikha datang, teman-temannya berdiri kegirangan, dan Tamlikha dipeluknya kuat-kuat. Kepada Tamlikha mereka berkata, “Puji dan syukur bagi Alloh yang telah menyelamatkan dirimu dari Diqyanius”.

Tamlikha mengelak, “Ada urusan apa dengan Diqyanius? Tahukah kalian, sudah berapa lamakah kalian tinggal di sini?”, “Kami tinggal sehari atau beberapa hari saja” jawab mereka. “Tidak…!” sangkal Tamlikha, “Kalian sudah tinggal di sini selama 309 tahun..! Diqyanius sudah lama meninggal dunia..! Generasi demi generasi sudah lewat silih berganti, dan penduduk kota itu sudah beriman kepada Allah yang Maha Agung..! Mereka sekarang datang untuk bertemu dengan kalian…!”.

Teman-teman Tamlikha menyahut, “Hai Tamlikha, apakah engkau hendak menjadikan kami ini orang-orang yang menggemparkan seluruh jagad?”, “Lantas apa yang kalian inginkan?” Tamlikha balik bertanya, “Angkatlah tanganmu ke atas dan kami pun akan berbuat seperti itu juga” jawab mereka.

Mereka bertujuh semua mengangkat tangan ke atas, kemudian berdoa, “Ya Allah, dengan kebenaran yang telah Kau perlihatkan kepada kami tentang keanehan-keanehan yang kami alami sekarang ini, cabutlah kembali nyawa kami tanpa sepengetahuan orang lain…!”.

Alloh SWT mengabulkan permohonan mereka, lalu memerintahkan Malaikat maut mencabut kembali nyawa mereka. Kemudian Alloh SWT melenyapkan pintu gua tanpa bekas. Dua orang bangsawan yang menunggu-nunggu segera maju mendekati gua, berputar-putar selama tujuh hari untuk mencari-cari pintunya, tetapi tanpa hasil. Tak dapat ditemukan lubang atau jalan masuk lainnya ke dalam gua. Pada saat itu dua orang bangsawan tadi menjadi yakin tentang betapa hebatnya kekuasaan Alloh SWT. Dua orang bangsawan itu memandang semua peristiwa yang dialami oleh para penghuni gua, sebagai peringatan yang diperlihatkan Allah SWT kepada mereka.

Bangsawan yang beragama Islam lalu berkata, “Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku..! akan ku dirikan sebuah tempat ibadah di pintu gua itu”. Sedang bangsawan yang beragama Nasrani berkata pula, “Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku..! Akan ku dirikan sebuah biara di pintu gua itu”. dua orang bangsawan itu bertengkar, dan setelah melalui pertikaian senjata, akhirnya bangsawan Nasrani dikalahkan oleh bangsawan yang beragama Islam.

Sampai di Imam Ali bin Abi Thalib KW berhenti menceritakan kisah para penghuni gua. Kemudian berkata kepada pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu, “Itulah, hai Yahudi, apa yang telah terjadi dalam kisah mereka. Demi Allah, sekarang aku hendak bertanya kepadamu, apakah semua yang ku ceritakan itu sesuai dengan apa yang tercantum dalam Taurat kalian ?”.

Pendeta Yahudi itu menjawab, “Ya Abal Hasan, engkau tidak menambah dan tidak mengurangi, walau satu huruf pun..! Sekarang engkau jangan menyebut diriku sebagai orang Yahudi, sebab aku telah bersaksi, Bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba Allah serta Rasul-Nya. Aku pun bersaksi juga, bahwa engkau orang yang paling berilmu di kalangan ummat ini…!”.

Demikianlah cerita tentang para penghuni gua (Ash-habul Kahfi), nukilan dari kitab Qishosul Anbiya yang tercantum dalam kitab “Fadho’ilul Khomsah” Minas Shihohis Sittah, tulisan As Sayyid Murtadho Al Faruz Aabaad.

Semoga kisah ini bisa membukakan pintu hidayah dan mengokohkan keimanan kita. Amin.

Segala Puji Bagi Allah SWT, Tuhan Semesta Alam.

 

Cerita dikutip dari : http://kabarnet.wordpress.com/2011/01/25/ringkasan-kisah-ashabul-kahfi/, 16 Januari 2012, 17:03

Doa

Do'a Bangun Tidur


الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَاناَ بَعْـدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

"Segala puji bagi Allah yang membangunkan kami setelah ditidurkan - Nya dan kepada - Nya kami dibangkitkan"

 

Do'a Ketika Mengenakan Pakaian


اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَسَانِيْ هَذَا (الثَّوْبَ) وَرَزَقَنِيْهِ مِن ْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ.

"Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pakaian ini kepadaku sebagai rezeki dari pada - Nya tanpa daya dan kekuatan dariku"

Do'a Mengenakan Pakaian Baru


اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ، أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ.

"Ya, Allah, hanya milik - Mu segala puji, Engkaulah yang memberi pakaian ini kepadaku. Aku mohon kepada - Mu untuk memperoleh kebaikannya dan kebaikan yang ia diciptakan karenanya. Aku berlindung kepada - Mu dari kejahatannya dan kejahatan yang ia ciptakan karena - Nya"

Do'a Masuk WC

 

(بِسْمِ اللهِ) اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ.

"Dengan nama Allah, Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada - Mu dari godaan setan laki-laki dan perempuan"

Nasehat Ulama

"Orang yang (keluar dari rumahnya) mencari ilmu, para malaikat akan mengantar kepergiannya sehingga dia pulang (ke rumahnya)" (Sayyidina Ali r.a)

"Orang Alim adalah lampu Allah di bumi. Maka barang siapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya, dia akan cahaya (ilmu) itu" (Sayyidina Ali r.a)

"Kedudukan orang alim bagaikan pohon kurma, engkau menunggu kapan buahnya jatuh kepadamu" (Sayyidina Ali r.a)

"Orang alim lebih utama dari pada orang yang berpuasa, mengerjakan shalat malam (tahajud), dan yang berjihad di jalan Allah. Jika seorang alim meninggal, maka terjadi lubang dalam islam yang tidak tertutupi sehingga datang orang alim lain yang datang kemudian (menggantikannya)" (Sayyidina Ali r.a)

"Orang yang alim adalah yang mengetahui bahwa apa yang diketahuinya, jika dibandingkan dengan apa yang tidak diketahuinya, sangatlah sedikit. Maka, karena itulah dia menganggap dirinya bodoh. Oleh karena itu, bertambahlah kesungguhannya dalam mencari ilmu karena pengetahuannya akan hal itu" (Sayyidina Ali r.a)

"Kesalahan yang dilakukan seorang alim seperti kapal yang pecah, maka ia tenggelam dan tenggelam pula bersamanya banyak orang" (Sayyidina Ali r.a)

"Jika seorang alim tertawa satu kali, maka dia telah membuang satu ilmu dari dirinya" (Sayyidina Ali r.a)

"Ujub adalah lawan kebenaran" (Sayyidina Ali r.a)

"Tidak ada pujian bersama kesombongan" (Sayyidina Ali r.a)

"Aib yang paling sulit diperbaiki adalah ujub dan keras kepala" (Sayyidina Ali r.a)

"Ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri adalah salah satu pendengki akalnya" (Sayyidina Ali r.a)

"Banyak orang yang kagum akan dirinya sendiri disebabkan oleh perkataan pujian terhadap dirinya" (Sayyidina Ali r.a)

"Kebanggaan yang paling besar adalah hendaknya engkau jangan berbangga" (Sayyidina Ali r.a)

"Jika orang-orang rendah terdidik, mereka sombong; dan jika menjadi kaya, mereka bertindak sewenang-wenang" (Sayyidina Ali r.a)

"Jika seseorang telah sampai dan dunia ini melebihi kadarnya, akhlaknya menjadi asing bagi manusia" (Sayyidina Ali r.a)

"Sekiranya Allah mengijinkan kesombongan kepada seseorang di antara hamba-hamba-Nya, niscaya Dia akan mengijinkannya kepada nabi-nabi-Nya dan wali-wali-Nya yang khusus. Akan tetapi, Allah SWT tidak menghendaki mereka sombong, dan Dia senang jika mereka tawadhu. Maka, mereka pun menempelkan pipi ke tanah, membenamkan wajah mereka ke dalam debu, dan merendahkan diri mereka terhadap orang-orang yang beriman. Mereka adalah golongan yang tertindas" (Sayyidina Ali r.a)

"Janganlah engkau menghancurkan kebaikanmu dengan kebanggaan dan kesombongan" (Sayyidina Ali r.a)

"Berlaku lemah lembutlah dan bersabarlah, niscaya engkau akan terhormat; dan janganlah engkau ujub, karena jika engkau ujub, niscaya engkau akan dibenci dan dipandang rendah" (Sayyidina Ali r.a)

"Tidak ada kesendirian yang lebih mengasingkan daripada ujub" (Sayyidina Ali r.a)

"Mengapa anak adam menyombongkan dirinya? Sesungguhnya permulaannya adalah sperma dan akhirnya adalah bangkai. Dia tidak dapat memberikan rezeki kepada dirinya sendiri dan tidak dapat menolak kematiannya" (Sayyidina Alli r.a)

"Sesuatu yang tidak baik diucapkan oleh seseorang - walaupun dia benar - adalah memuji dirinya sendiri" (Sayyidina Ali r.a)

"Kedengkian adalah cacat dalam agama" (Sayyidina Ali r.a)

"Kedengkian adalah kesedihan yang pasti, pikiran yang kacau, dan kesusahan yang terus-menerus. Kenikmatan bagi orang yang didengki adalah nikmat, sementara bagi orang yang dengki adalah malapetaka" (Sayyidina Ali r.a)

"Kedengkian adalah perangai yang rendah, dan diantara kerendahannya bahwasanya ia menimpa orang yang paling dekat, kemudian yang lebih dekat lagi" (Sayyidina Ali r.a)

"Sehatnya badan karena sedikitnya dengki" (Sayyidina Ali r.a)

"Orang yang dengki, mendengki kepada orang yang tidak ada dosa padanya" (Sayyidina Ali r.a)

"Kedengkian seorang teman adalah penyakit kecintaan" (Sayyidina Ali r.a)

"Kedengkian diwariskan, sebagaimana diwariskannya harta" (Sayyidina Ali r.a)

"Orang yang dengki melihat hilangnya kenikmatan darimu sebagai kenikmatan baginya" (Sayyidina Ali r.a)

"Jika Allah berkehendak menguasakan seorang hamba kepada seorang musuh yang tidak mempunyai belas kasihan kepadanya, maka Dia menguasakannya kepada seorang pendengki" (Sayyidina Ali r.a)

"Janganlah kalian saling mendengki karena sesungguhnya dengki itu memakan iman, sebagaimana api memakan kayu bakar" (Sayyidina Ali r.a)

"Seseorang yang dengki tidak akan pernah merasa puas terhadapmu sehingga salah seorang dari kalian berdua meninggal dunia" (Sayyidina Ali r.a)

"Jika engkau melayani seorang pemimpin, maka janganlah engkau memakai pakaian yang sama dengannya, mengendarai kendaraan yang sama dengannya, dan mengambil pelayan yang semisal dengan pelayan-pelayannya, maka kemungkinan engkau akan selamat darinya" (Sayyidina Ali r.a)

"Pemilikan menyebabkan kedengkian. Kedengkian menyebabkan kemarahan. Kemarahan menyebabkan perselisihan. Perselisihan menyebabkan perpecahan. Perpecahan menyebabkan kelemahan. Kelemahan menyebabkan kehinaan. Dan kehinaan menyebabkan hilangnya kekuasaan dan sirnanya kenikmatan" (Sayyidina Ali r.a)

Motivasi Diri

Pilihan keputusan dan tindakan yang anda pilih terhadap segala hal dan segala situasi yang terjadi dalam hidup anda adalah kunci-kunci sukses. Pilihan keputusan dan tindakan yang membuat anda semakin dekat kepada - Nya adalah bentuk tanggungjawab tertinggi terhadap kesuksesan hidup anda.

Berdoalah kepada - Nya dengan menyampaikan kalimat-kalimat syukur karena Dia telah memberi segala sesuatu yang indah dan nikmat. Karena Dia akan memberi sesuai prasangka orang yang berdoa kepada - Nya.

Berpikir dan berbicaralah tentang nikmat dan kelebihan yang telah diberikan - Nya, hingga Dia terus memberikan keberlimpahan - Nya. Hindari berpikir dan berbicara tentang kesulitan yang belum tentu datang dari - Nya.

Jika anda dianugerahi ilham suatu cita-cita yang mulia maka segera arahkan cita-cita itu hanya kepada- Nya. Karena hanya Dia yang dapat membantu mewujudkan cita-cita mulia yang oleh orang lain dianggap tidak mungkin dicapai.

Cita-cita yang dihadapkan hanya kepada cinta - Nya akan menggelorakan semangat dalam meraihnya karena perolehan cinta dari - Nya sudah melebihi cita-cita itu sendiri.

Ketika jiwa raga hanya dipersembahkan kepada - Nya, keberanian meraih cita-cita tidak akan pernah sirna karena naungan - Nya adalah tempat paling aman dan paling nyaman.

Ketika seluruh ketakutan hanya ditujukan kepada - Nya, maka seluruh ketakutan dalam hidup ini menjadi tidak ada artinya.

Rasa takut kepada - Nya melahirkan jiwa raga yang taat dan rendah hati. Sementara ketakutan selain kepada diri - Nya membiakkan pemberontakan dan penghinaan.

Ketakutan dan cinta kepada - Nya akan melahirkan rasa aman dan menghadirkan rasa tentram. Sementara ketakutan dan cinta selain kepada - Nya hanya akan menumbuhkan ketakutan dan membangkitkan keresahan.

Hak adalah akibat sementara kewajiban adalah sebab. Mengapa kita menunggu dan menuntut akibat? sementara sebab untuk terjadinya akibat tidak kita jalankan.

Kata bahagia dan sukses mengandung unsur kewajiban dan hak. Laksanakan semua kewajiban yang diperintahkan - Nya maka bahagia dan sukses sejati akan langsung menjadi hak anda.

Ingatlah kepada - Nya ketika berbaring, duduk dan berdiri, maka kamu akan selalu ingat dimana hidupmu akan berakhir.

Mengejar dan menyelesaikan banyak hal dan pekerjaan adalah baik. Tetapi mengejar cinta - Nya dan karena - Nya hanya bisa menyelesaikan satu hal  saja tetap jauh lebih berarti dan bermakna bagi seluruh kehidupanmu.

Seseorang yang terbakar oleh Cinta - Nya akan bisa mengguncang dunia. Seseorang yang dibelenggu cinta dunia akan diguncang oleh - Nya.

Motivasi adalah makanan yang bergizi. Motivasi untuk meraih cinta - Nya adalah makanan paling baik dan paling bergizi dari yang pernah ada, karena motivasi ini pasti datang dari - Nya.

Hanya anak-anak yang akan memilih untuk dimanjakan. Tetapi Dia menginginkan setiap orang menjadi kuat, mengenal - Nya dan mencintai - Nya maka Dia terus mengalirkan kasih sayang - Nya tanpa putus walaupun dalam bentuk kesulitan dan kesedihan.

Mengarahkan pikiran kita selalu kepada - Nya akan menarik perhatian seluruh alam kepada kita. Mencurahkan seluruh cinta hanya kepada - Nya akan menolehkan cinta seluruh mahluk kepada kita.

Satu-satunya cara paling efesien dan paling efektif untuk membangun kebiasaan berpikir positif adalah dengan selalu ingat kepada - Nya.

Bersabar karena - Nya berarti kita merumuskan pilihan, memilih pilihan hidup yang benar dan melaksanakan pilihan tersebut dengan sebaik-baiknya. Pasrah kepada - Nya berarti  selalu mengharapkan ridha dari - Nya dan ridha atas segala hasil dari pilihan yang telah kita ambil dari berbagai pilihan yang ada.

Bersyukur kepada - Nya berarti menerima dan memuji - Nya dengan setulus hati atas segala hasil dari pilihan hidup yang telah kita lakukan walaupun itu mungkin terasa pahit.

Kualitas kehidupan kita akan dapat terus diringkatkan ketika kita selalu mendengarkan - Nya.

Pemikir positif adalah orang yang bersabar dan bersyukur. Pemikir positif akan melihat suatu kesulitan sebagai bentuk kasih sayang dari - Nya agar ia bisa melakukan segala sesuatu dengan labih baik lagi.