SYAHADAT

TANGGA PERTAMA MENDAKI JALAN KESELAMATAN

 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

 

Hidup didunia ini hanyalah sementara saja (Q.S Ghafir [40] : 85), sebentar saja (Q.S. An-Nisaa [4] : 77), hanya sekedipan mata saja (Q.S. Al-Mu’Minuun [23] : 144). Hidup didunia ini adalah sebuah perjalanan yang sangat singkat, dimana nanti pada saatnya kita akan kembali kepada – NYA, kepada ALLAH SWT (Q.S. Al-Baqarah [2] : 286). Dalam kehidupan didunia ini, setiap diri manusia hanyalah seorang pejalan yang harus menempuh perjalan untuk kembali menuju kepada – Nya.

 

Tetapi walaupun hanya sebuah perjalanan yang sangat singkat, perjalanan didunia ini tidaklah mudah untuk dilalui dengan selamat oleh sang pejalan. Banyak onak dan duri yang menghadang, banyak rintangan dan godaan datang menyerang, menyulitkan dan membahayakan sang pejalan bahkan bisa menyesatkan hingga mematikan dirinya. Perjalanan inipun seolah menampilkan banyak jalan yang harus dicoba dan dilalui, ada jalan yang menjanjikan kemudahan, ada jalan yang mengumbar kenikmatan, ada jalan yang menampakkan kesenangan, ada jalan yang memperlihatkan kepapaan, ada jalan yang menghembuskan kenistaan, ada jalan yang menurun, ada jalan yang mendaki. Perjalanan ini memunculkan banyak fatamorgana yang bisa mengelabui mata sang pejalan (Q.S. Al-Baqarah [2] : 7).

 

Jalan manakah yang dipilih sang pejalan melakukan perjalannya akan menentukan keselamatan hidupnya. Fatamorgana kehidupan sering mengelabui sang pejalan sehingga dia memilih jalan yang mudah tetapi berujung dengan kesulitan. Memilih jalan yang penuh kenikmatan tetapi berakhir kepahitan. Memilih jalan kesenangan tetapi dijemput nestapa dan kesedihan. Sementara jalan keselamatan seringkali tidak dilirik karena jalan ini terlihat mendaki hingga memunculkan kesan banyaknya kesulitan yang akan dihadapi (Q.S. Al-Balad [90] : 10 – 20).

 

Jalan keselamatan ini seperti terpampang menjulang curam berundak-undak tinggi keatas yang untuk menaikinya memerlukan kerja keras dan usaha yang sangat gigih dengan kemungkinan sang pejalan akan tergelincir kembali kebawah jika tidak mempunyai pegangan yang kuat. Dijalan ini sang pejalan harus berpegangan dengan kuat pada tiang-tiang yang ada tetapi sangat licin dan agar lebih memastikan keajegannya maka akan lebih baik jika sang pejalan mempunyai teman yang membantunya menapaki jalan ini.

 

Teman ini haruslah bukan sembarang teman, tetapi harus dipilih seorang teman yang telah mempunyai ilmu yang mumpuni untuk mendaki jalan ini, dia benar-benar tahu seluk beluk jalan ini, dia sungguh-sungguh memahami apa saja yang ada dalam setiap tingkatan jalan ini, tidak ada sedikitpun bagian dari jalan ini yang lepas dari pengetahuannya karena dia telah sampai ketingkatan yang paling tinggi dari jalan ini dengan akhir yang penuh dengan kenikmatan (Q.S. Al-Faatihah [1] : 7). Teman ini bukanlah sembarang teman, tetapi dia adalah seseorang yang telah mencapai tingkatan hakikat perjalanan kehidupan yang kemudian menjadikannya sebagai penuntun para pejalan. Dialah sang pembimbing, pemimpin perjalanan bagi sang pejalan, yang menunjukkan dan membimbing sang pejalan, tempat sang pejalan bergantung ketika tidak mendapatkan pegangan agar tidak tergelincir kembali kebawah, seseorang yang akan dengan cepat meraih sang pejalan dan menjulurkan tangannya ketika sang pejalan akan tergelincir (Q.S. Al-Kahfi [18] : 17).

 

Yang manakah jalan keselamatan itu? Jalan keselamatan itu adalah Islam. Menjalankan rukun islam dengan sesempurna mungkin merupakan jalan keselamatan setiap jiwa manusia. Tetapi menjalankan rukun islam dengan sempurna adalah tidak mudah karena ini adalah jalan mendaki dan akan sangat sulit jika dilakukan seorang diri.

Rukun Islam bagaikan tangga yang terdiri dari lima anak tangga, dimana anak tangga pertamanya adalah (mengucapkan kalimah) syahadat, anak tangga kedua adalah (menegakkan) shalat, anak tangga ketiga adalah (menunaikan) zakat, anak tangga keempat adalah (menjalankan) puasa dan anak tangga kelima adalah (berangkat) haji.

 

Karena merupakan anak tangga maka setiap pejalan harus dapat meniti dan melewatinya satu persatu dengan sempurna, tidak usah terburu-buru. Sang pejalan harus berusaha untuk terus menyempurnakan usahanya dalam melewati setiap anak tangga tersebut. Ketidaksempurnaan dalam meniti satu anak tangga akan menghantarkan pada ketidaksempurnaan ditangga berikutnya. Bahkan ada kemungkinan jika sang pejalan tidak sempurna melewati suatu anak tangga maka pada hakikatnya dia tidak akan dapat mencapai anak tangga berikutnya. Misalkan seseorang yang belum bersyahadat tetapi dia rajin mengerjakan shalat maka shalatnya tidaklah berarti apa-apa. Walaupun dia shalat tetapi karena dia belum bersyahadat maka pada hakikatnya dia masih belum shalat. Dia masih belum meniti tangga rukun islam tersebut, pada hakikatnya dia masih belum menapaki tangga keselamatan tersebut.

 

Ketika sang pejalan dapat meniti satu anak tangga dengan sempurna maka anak tangga berikutnya akan lebih mudah dinaiki. Ketika sang pejalan dengan kesungguhannya dapat meniti satu anak tangga dengan sempurna maka anak tangga itu akan menghantarkannya kepada anak tangga berikutnya. Ketika sang pejalan telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk bersyahadat dengan benar hingga jiwanya diliputi dengan syahdat maka dia akan dihantarkan pada anak tangga berikutnya yaitu shalat. Ketika sang pejalan berjuang dengan sungguh-sungguh untuk segera menegakkan shalatnya maka dia kan dihantarkan pada anak tangga ketiga yaitu zakat. Ketika sang pejalan benar-benar telah meringankan dirinya untuk menunaikan zakat maka dia akan dihantarkan pada anak tangga keempat yaitu puasa. Ketika sang pejalan menjalankan puasanya dengan benar maka dia akan dihantarkan menuju pada tangga kelima yaitu haji. Ketika sang pejalan memberangkatkan dirinya berhaji dengan benar maka dia akan mencapai hakikat kehidupan, dia memperoleh haji mabrur.

 

Sebagai sebuah titian anak tangga, syahadat dalam rukun islam merupakan anak tangga pertama dan anak tangga yang utama, yang menjadi pondasi keberhasilan dalam menaiki tangga-tangga berikutnya. Tetapi syahadat ini masih kurang mendapatkan perhatian utama.  Syahadat, sepertinya, seringkali hanya dianggap sebagai sebuah kalimat pendek yang dibaca, diucapkan dan dipahami sepintas lalu saja.Padahal ketidaksempurnaan dalam ber – syahadat akan membuat sang pejalan tidak sempurna bahkan tidak dapat menaiki anak-anak tangga berikutnya.

 

Wahai sang pejalan, sudahkan kamu ber – syahadat dengan benar? Bagaimanakah kamu ber – syahadat?  Dihadapan siapakah kamu ber – syahadat? Bersama siapakah kamu ber – syahadat? Untuk siapakah kamu ber – syahadat? Berapakalikah kamu ber – syahadat? Kapankah kamu ber – syahadat?  Tahukah kamu apakah syahadat itu? Apakah syahadat telah meliputi seluruh jiwa ragamu?.

 

Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah

Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa muhammad adalah Rasul Allah.

 

Doa

Do'a Bangun Tidur


الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَاناَ بَعْـدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

"Segala puji bagi Allah yang membangunkan kami setelah ditidurkan - Nya dan kepada - Nya kami dibangkitkan"

 

Do'a Ketika Mengenakan Pakaian


اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَسَانِيْ هَذَا (الثَّوْبَ) وَرَزَقَنِيْهِ مِن ْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّيْ وَلاَ قُوَّةٍ.

"Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pakaian ini kepadaku sebagai rezeki dari pada - Nya tanpa daya dan kekuatan dariku"

Do'a Mengenakan Pakaian Baru


اَللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ كَسَوْتَنِيْهِ، أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَا صُنِعَ لَهُ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّ مَا صُنِعَ لَهُ.

"Ya, Allah, hanya milik - Mu segala puji, Engkaulah yang memberi pakaian ini kepadaku. Aku mohon kepada - Mu untuk memperoleh kebaikannya dan kebaikan yang ia diciptakan karenanya. Aku berlindung kepada - Mu dari kejahatannya dan kejahatan yang ia ciptakan karena - Nya"

Do'a Masuk WC

 

(بِسْمِ اللهِ) اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ.

"Dengan nama Allah, Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada - Mu dari godaan setan laki-laki dan perempuan"

Nasehat Ulama

"Orang yang (keluar dari rumahnya) mencari ilmu, para malaikat akan mengantar kepergiannya sehingga dia pulang (ke rumahnya)" (Sayyidina Ali r.a)

"Orang Alim adalah lampu Allah di bumi. Maka barang siapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya, dia akan cahaya (ilmu) itu" (Sayyidina Ali r.a)

"Kedudukan orang alim bagaikan pohon kurma, engkau menunggu kapan buahnya jatuh kepadamu" (Sayyidina Ali r.a)

"Orang alim lebih utama dari pada orang yang berpuasa, mengerjakan shalat malam (tahajud), dan yang berjihad di jalan Allah. Jika seorang alim meninggal, maka terjadi lubang dalam islam yang tidak tertutupi sehingga datang orang alim lain yang datang kemudian (menggantikannya)" (Sayyidina Ali r.a)

"Orang yang alim adalah yang mengetahui bahwa apa yang diketahuinya, jika dibandingkan dengan apa yang tidak diketahuinya, sangatlah sedikit. Maka, karena itulah dia menganggap dirinya bodoh. Oleh karena itu, bertambahlah kesungguhannya dalam mencari ilmu karena pengetahuannya akan hal itu" (Sayyidina Ali r.a)

"Kesalahan yang dilakukan seorang alim seperti kapal yang pecah, maka ia tenggelam dan tenggelam pula bersamanya banyak orang" (Sayyidina Ali r.a)

"Jika seorang alim tertawa satu kali, maka dia telah membuang satu ilmu dari dirinya" (Sayyidina Ali r.a)

"Ujub adalah lawan kebenaran" (Sayyidina Ali r.a)

"Tidak ada pujian bersama kesombongan" (Sayyidina Ali r.a)

"Aib yang paling sulit diperbaiki adalah ujub dan keras kepala" (Sayyidina Ali r.a)

"Ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri adalah salah satu pendengki akalnya" (Sayyidina Ali r.a)

"Banyak orang yang kagum akan dirinya sendiri disebabkan oleh perkataan pujian terhadap dirinya" (Sayyidina Ali r.a)

"Kebanggaan yang paling besar adalah hendaknya engkau jangan berbangga" (Sayyidina Ali r.a)

"Jika orang-orang rendah terdidik, mereka sombong; dan jika menjadi kaya, mereka bertindak sewenang-wenang" (Sayyidina Ali r.a)

"Jika seseorang telah sampai dan dunia ini melebihi kadarnya, akhlaknya menjadi asing bagi manusia" (Sayyidina Ali r.a)

"Sekiranya Allah mengijinkan kesombongan kepada seseorang di antara hamba-hamba-Nya, niscaya Dia akan mengijinkannya kepada nabi-nabi-Nya dan wali-wali-Nya yang khusus. Akan tetapi, Allah SWT tidak menghendaki mereka sombong, dan Dia senang jika mereka tawadhu. Maka, mereka pun menempelkan pipi ke tanah, membenamkan wajah mereka ke dalam debu, dan merendahkan diri mereka terhadap orang-orang yang beriman. Mereka adalah golongan yang tertindas" (Sayyidina Ali r.a)

"Janganlah engkau menghancurkan kebaikanmu dengan kebanggaan dan kesombongan" (Sayyidina Ali r.a)

"Berlaku lemah lembutlah dan bersabarlah, niscaya engkau akan terhormat; dan janganlah engkau ujub, karena jika engkau ujub, niscaya engkau akan dibenci dan dipandang rendah" (Sayyidina Ali r.a)

"Tidak ada kesendirian yang lebih mengasingkan daripada ujub" (Sayyidina Ali r.a)

"Mengapa anak adam menyombongkan dirinya? Sesungguhnya permulaannya adalah sperma dan akhirnya adalah bangkai. Dia tidak dapat memberikan rezeki kepada dirinya sendiri dan tidak dapat menolak kematiannya" (Sayyidina Alli r.a)

"Sesuatu yang tidak baik diucapkan oleh seseorang - walaupun dia benar - adalah memuji dirinya sendiri" (Sayyidina Ali r.a)

"Kedengkian adalah cacat dalam agama" (Sayyidina Ali r.a)

"Kedengkian adalah kesedihan yang pasti, pikiran yang kacau, dan kesusahan yang terus-menerus. Kenikmatan bagi orang yang didengki adalah nikmat, sementara bagi orang yang dengki adalah malapetaka" (Sayyidina Ali r.a)

"Kedengkian adalah perangai yang rendah, dan diantara kerendahannya bahwasanya ia menimpa orang yang paling dekat, kemudian yang lebih dekat lagi" (Sayyidina Ali r.a)

"Sehatnya badan karena sedikitnya dengki" (Sayyidina Ali r.a)

"Orang yang dengki, mendengki kepada orang yang tidak ada dosa padanya" (Sayyidina Ali r.a)

"Kedengkian seorang teman adalah penyakit kecintaan" (Sayyidina Ali r.a)

"Kedengkian diwariskan, sebagaimana diwariskannya harta" (Sayyidina Ali r.a)

"Orang yang dengki melihat hilangnya kenikmatan darimu sebagai kenikmatan baginya" (Sayyidina Ali r.a)

"Jika Allah berkehendak menguasakan seorang hamba kepada seorang musuh yang tidak mempunyai belas kasihan kepadanya, maka Dia menguasakannya kepada seorang pendengki" (Sayyidina Ali r.a)

"Janganlah kalian saling mendengki karena sesungguhnya dengki itu memakan iman, sebagaimana api memakan kayu bakar" (Sayyidina Ali r.a)

"Seseorang yang dengki tidak akan pernah merasa puas terhadapmu sehingga salah seorang dari kalian berdua meninggal dunia" (Sayyidina Ali r.a)

"Jika engkau melayani seorang pemimpin, maka janganlah engkau memakai pakaian yang sama dengannya, mengendarai kendaraan yang sama dengannya, dan mengambil pelayan yang semisal dengan pelayan-pelayannya, maka kemungkinan engkau akan selamat darinya" (Sayyidina Ali r.a)

"Pemilikan menyebabkan kedengkian. Kedengkian menyebabkan kemarahan. Kemarahan menyebabkan perselisihan. Perselisihan menyebabkan perpecahan. Perpecahan menyebabkan kelemahan. Kelemahan menyebabkan kehinaan. Dan kehinaan menyebabkan hilangnya kekuasaan dan sirnanya kenikmatan" (Sayyidina Ali r.a)

Motivasi Diri

Pilihan keputusan dan tindakan yang anda pilih terhadap segala hal dan segala situasi yang terjadi dalam hidup anda adalah kunci-kunci sukses. Pilihan keputusan dan tindakan yang membuat anda semakin dekat kepada - Nya adalah bentuk tanggungjawab tertinggi terhadap kesuksesan hidup anda.

Berdoalah kepada - Nya dengan menyampaikan kalimat-kalimat syukur karena Dia telah memberi segala sesuatu yang indah dan nikmat. Karena Dia akan memberi sesuai prasangka orang yang berdoa kepada - Nya.

Berpikir dan berbicaralah tentang nikmat dan kelebihan yang telah diberikan - Nya, hingga Dia terus memberikan keberlimpahan - Nya. Hindari berpikir dan berbicara tentang kesulitan yang belum tentu datang dari - Nya.

Jika anda dianugerahi ilham suatu cita-cita yang mulia maka segera arahkan cita-cita itu hanya kepada- Nya. Karena hanya Dia yang dapat membantu mewujudkan cita-cita mulia yang oleh orang lain dianggap tidak mungkin dicapai.

Cita-cita yang dihadapkan hanya kepada cinta - Nya akan menggelorakan semangat dalam meraihnya karena perolehan cinta dari - Nya sudah melebihi cita-cita itu sendiri.

Ketika jiwa raga hanya dipersembahkan kepada - Nya, keberanian meraih cita-cita tidak akan pernah sirna karena naungan - Nya adalah tempat paling aman dan paling nyaman.

Ketika seluruh ketakutan hanya ditujukan kepada - Nya, maka seluruh ketakutan dalam hidup ini menjadi tidak ada artinya.

Rasa takut kepada - Nya melahirkan jiwa raga yang taat dan rendah hati. Sementara ketakutan selain kepada diri - Nya membiakkan pemberontakan dan penghinaan.

Ketakutan dan cinta kepada - Nya akan melahirkan rasa aman dan menghadirkan rasa tentram. Sementara ketakutan dan cinta selain kepada - Nya hanya akan menumbuhkan ketakutan dan membangkitkan keresahan.

Hak adalah akibat sementara kewajiban adalah sebab. Mengapa kita menunggu dan menuntut akibat? sementara sebab untuk terjadinya akibat tidak kita jalankan.

Kata bahagia dan sukses mengandung unsur kewajiban dan hak. Laksanakan semua kewajiban yang diperintahkan - Nya maka bahagia dan sukses sejati akan langsung menjadi hak anda.

Ingatlah kepada - Nya ketika berbaring, duduk dan berdiri, maka kamu akan selalu ingat dimana hidupmu akan berakhir.

Mengejar dan menyelesaikan banyak hal dan pekerjaan adalah baik. Tetapi mengejar cinta - Nya dan karena - Nya hanya bisa menyelesaikan satu hal  saja tetap jauh lebih berarti dan bermakna bagi seluruh kehidupanmu.

Seseorang yang terbakar oleh Cinta - Nya akan bisa mengguncang dunia. Seseorang yang dibelenggu cinta dunia akan diguncang oleh - Nya.

Motivasi adalah makanan yang bergizi. Motivasi untuk meraih cinta - Nya adalah makanan paling baik dan paling bergizi dari yang pernah ada, karena motivasi ini pasti datang dari - Nya.

Hanya anak-anak yang akan memilih untuk dimanjakan. Tetapi Dia menginginkan setiap orang menjadi kuat, mengenal - Nya dan mencintai - Nya maka Dia terus mengalirkan kasih sayang - Nya tanpa putus walaupun dalam bentuk kesulitan dan kesedihan.

Mengarahkan pikiran kita selalu kepada - Nya akan menarik perhatian seluruh alam kepada kita. Mencurahkan seluruh cinta hanya kepada - Nya akan menolehkan cinta seluruh mahluk kepada kita.

Satu-satunya cara paling efesien dan paling efektif untuk membangun kebiasaan berpikir positif adalah dengan selalu ingat kepada - Nya.

Bersabar karena - Nya berarti kita merumuskan pilihan, memilih pilihan hidup yang benar dan melaksanakan pilihan tersebut dengan sebaik-baiknya. Pasrah kepada - Nya berarti  selalu mengharapkan ridha dari - Nya dan ridha atas segala hasil dari pilihan yang telah kita ambil dari berbagai pilihan yang ada.

Bersyukur kepada - Nya berarti menerima dan memuji - Nya dengan setulus hati atas segala hasil dari pilihan hidup yang telah kita lakukan walaupun itu mungkin terasa pahit.

Kualitas kehidupan kita akan dapat terus diringkatkan ketika kita selalu mendengarkan - Nya.

Pemikir positif adalah orang yang bersabar dan bersyukur. Pemikir positif akan melihat suatu kesulitan sebagai bentuk kasih sayang dari - Nya agar ia bisa melakukan segala sesuatu dengan labih baik lagi.